Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Juni 2013

kutukan keris empu gandring ataukah karma cinta berdarah?

imge ilustrasi :http://my-nanako.blogspot.com
Keris empu gandring merupakan salah satu keris paling tersohor di negeri nusantara ini.keris ini mempunyai pengaruh yang besar dalam terbentuknya kerajaan singosari.dan tentu yang lebih sering kita dengar adalah kutukan dari keris ini.

Sebelum pembahasan lebih lanjut saya akan mengulas beberapa tokoh yang  mempunyai Andil dalam kisah ini.

1.    Ken Arok
Ken Arok adalah putra Gajah Para dari desa campara dan Ken Endok dari desa pangkur. Gajah adalah nama jabatan setara wedana (pembantu adipati) pada era kerajaan Kediri. Sebelum Ken Arok lahir ayahnya telah meninggal dunia saat ia dalam kandungan, dan saat itu Ken Ndok telah direbut oleh raja Kediri. Oleh ibunya, bayi Ken Arok dibuang di sebuah pemakaman, hingga kemudian ditemukan dan diasuh oleh seorang pencuri bernama Lembong.

image :dekka-93.deviantart.com
Ken Arok tumbuh menjadi berandalan yang lihai mencuri dan gemar berjudi, sehingga membebani Lembong dengan banyak hutang. Lembong pun mengusirnya. Ia kemudian diasuh oleh Bango Samparan, seorang penjudi dari desa Karuman (sekarang Garum-Blitar) yang menganggapnya sebagai pembawa keberuntungan.namun Ken Arok tidak betah hidup menjadi anak angkat Genukbuntu, istri tua Bango Samparan. Ia kemudian bersahabat dengan Tita, anak kepala desa Siganggeng, Keduanya pun menjadi pasangan perampok yang ditakuti di seluruh kawasan Kerajaan Kadiri.

Akhirnya, Ken Arok bertemu seorang brahmana dari India bernama Lohgawe, yang datang ke tanah Jawa mencari titisan Wisnu. Dari ciri-ciri yang ditemukan, Lohgawe yakin kalau Ken Arok adalah orang yang dicarinya Atas bantuan Lohgawe ini, Ken Arok dapa t diterima bekerja sebagai pengawal Tunggul Ametung.seorang akuwwu di Tumapel (cikal bakal Singosari).

Ken Arok kemudian tertarik pada Ken Dedes istri Tunggul Ametung yang cantik. Apalagi Lohgawe juga meramalkan kalau Ken Dedes akan menurunkan raja-raja tanah Jawa. Hal itu semakin membuat Ken Arok berhasrat untuk merebut Ken Dedes, meskipun tidak direstui Lohgawe.

2.    Ken Dedes
Ken Dedes adalah anank dari empu purwa seorang pendeta budha dari desa panawijen. Ia merupakan  leluhur atau cikal bakal dari raja – raja majapahit. Pada suatu hari Tunggul Ametung akuwu Tumapel singgah di rumahnya. Tunggul Ametung jatuh hati padanya dan segera mempersunting gadis itu. Karena saat itu ayahnya sedang berada di hutan, Ken Dedes meminta Tunggul Ametung supaya sabar menunggu. Namun Tunggul Ametung tidak kuasa menahan diri. Ken Dedes pun dibawanya pulang dengan paksa ke Tumapel untuk dinikahi.
Ketika Mpu Purwa pulang ke rumah, ia marah mendapati putrinya telah diculik. Ia pun mengutuk barangsiapa yang telah menculik putrinya, maka ia akan mati akibat kecantikan
Ken Dedes.
image:jakartabytrain.com

Untuk merebut ken Dedes dari tunggul Ametung, ken Arok berencana membunuh tunggul ametung dan menggantikanya menjadi suami ken dedes sekaligus menggantikanya menjadi seorang akuwwu. Oleh karena itu dia butuh pusaka yang ampuh, kemudian dia memesan sebuah keris kepada Mpu Gandring dari desa lulumbang, keris ini terbuat dari batu meteor yang sangat kuat dan mempunyai kekuatan magis yang tinggi.sebenarnya keris ini belum jadi dengan sempurna namun ken arok sudah tidak sabar untuk membawa dan menguji Keris tersebut,karena belum selesai di buat mpu gandring tidak mengijinkan keris itu di bawa ken arok,kemudian saat lengah Keris tersebut ditusukkannya pada Mpu Gandring. Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok.

Sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, keris ini dipinjamkan kepada rekan kerjanya, yang bernama Kebo Ijo yang tertarik dengan keris itu dan selalu dibawa-bawanya kemana mana untuk menarik perhatian umum. Bagi Ken Arok sendiri, peminjaman keris itu adalah sebagai siasat agar nanti yang dituduh oleh publik Tumapel adalah Kebo Ijo dalam kasus pembunuhan yang dirancang sendiri oleh Ken Arok. Siasatnya berhasil dan hampir seluruh publik Tumapel termasuk beberapa pejabat percaya bahwa Kebo Ijo adalah tersangka pembunuhan Tunggul Ametung. Ken Arok yang saat itu adalah orang kepercayaan Tunggul Ametung langsung membunuh Kebo Ijo yang konon, dengan keris pusaka itu.
image:rumahmayanglee.blogspot.com

Malam berikutnya, Ken Arok mencuri keris pusaka itu dari tangan Kebo ijo yang sedang mabuk arak. Ia lalu menyusup ke kamar tidur Tunggul Ametung dan membunuh majikannya itu di atas ranjang. Ken Dedes menjadi saksi pembunuhan suaminya. Namun hatinya luluh oleh rayuan Ken Arok, Dalam kisah kematian Ken Arok dapat ditarik kesimpulan kalau Ken Dedes merupakan saksi mata pembunuhan Tunggul Ametung. Anehnya, ia justru rela dinikahi oleh pembunuh suaminya itu. Hal ini membuktikan kalau antara Ken Dedes dan Ken Arok sesungguhnya saling mencintai, sehingga ia pun mendukung rencana pembunuhan Tunggul Ametung

Setelah membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok mengambil jabatannya, memperistri Ken Dedes yang saat itu sedang mengandung dan memperluas pengaruh Tumapel sehingga akhirnya mampu menghancurkan Kerajaan Kediri. Ken Arok sendiri akhirnya mendirikan kerajaan Singhasari.
Rupanya kasus pembunuhan ini tercium oleh Anusapati, anak Ken Dedes dengan ayah Tunggul Ametung. Anusapati, yang diangkat anak oleh Ken Arok mengetahui semua kejadian itu dari ibunya, Ken Dedes dan bertekat untuk menuntut balas. Anusapati akhirnya merancang pembalasan pembunuhan itu dengan menyuruh seorang pendekar sakti kepercayaannya, Ki Pengalasan.
Anusapati menyerahkan keris kepada Ki Pengalasan yang menurut bahasa sekarang, bertugas sebagai “eksekutor” terhadap Ken Arok. Tugas itu dilaksanakannya, dan untuk menghilangkan jejak, Anusapati membunuh Ki Pengalasan dengan keris itu.

Anusapati mengambil alih pemerintahan Ken Arok, namun tidak lama. Karena Tohjaya, Putra Ken Arok dari Ken Umang akhirnya mengetahui kasus pembunuhan itu. Dan Tohjaya pun menuntut balas.
Tohjaya mengadakan acara Sabung Ayam kerajaan yang sangat digemari Anusapati. Ketika Anusapati lengah, Tohjaya mengambil keris Mpu Gandring tersebut dan langsung membunuhnya di tempat. Tohjaya membunuhnya berdasarkan hukuman dimana Anusapati diyakini membunuh Ken Arok. Setelah membunuh Anusapati, Tohjaya mengangkat dirinya sebagai raja menggantikan Anusapati.
Tohjaya sendiri tidak lama memerintah. Muncul berbagai ketidak puasan baik dikalangan rakyat dan bahkan kalangan elit istana yang merupakan keluarganya dan saudaranya sendiri, diantaranya Mahisa Campaka dan Dyah Lembu Tal. Ketidakpuasan dan intrik istana ini akhirnya berkobar menjadi peperangan yang menyebabkan tewasnya Tohjaya.Tohjaya, putera Ken Arok dari selirnya Ken Umang tidak terbunuh oleh keris ini, namun terluka oleh lembing, dan akhirnya tewas karena luka-lukanya
 Setelah keadaan berhasil dikuasai, tahta kerajaan akhirnya dilanjutkan oleh Ranggawuni yang memerintah cukup lama dan dikatakan adalah masa damai kerajaan Singashari. Sejak terbunuhnya Tohjaya, Keris Mpu Gandring hilang tidak diketahui rimbanya.
Setelah mengamati kisah di atas dengan seksama dapat di tarik kesimpulan :
  • Ada cinta segi tiga atau cinta terselubung antara Ken Arok dan Ken Dedes dan tunggul ametung ,sehingga ken Dedes pun mendukung KenArok untuk membunuh Tunggul Ametung.
  • Terbunuhnya Ken Arok dan bebrapa putranya bukan hasil dari kutukan yang di ucapkan mpu gandring sebelum meninggal.karena kutukan mpu gandring bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa dari Ken Arok  dan tujuh turunanya, sedangkan yang menjadi tumbal keris itu adalah :
1.    Mpu Gandring, Sang Pembuat Keris.
2.    Kebo Ijo, rekan Ken Arok.
3.    Tunggul Ametung, Penguasa Tumapel saat itu.
4.    Ken Arok, Pendiri Kerajaan Singasari.
5.    Ki Pengalasan, pengawal Anusapati yang membunuh Ken Arok
6.    Anusapati, Anak Ken Dedes yang memerintah Ki Pengalasan membunuh Ken Arok.

  •  Jika Dendam di Balas dengan dendam maka tidak akan ada habis nya meskipun sudah menelan korban Tujuh turunan.
sumber : wikipedia - http://misteridunia.wordpress.com




Kamis, 03 Mei 2012

JENGIS KHAN DAN KEJAYAAN MONGOLIA


Jenghis Khan dilahirkan dengan nama Temüjin sekitar tahun 1162 dan 1167, anak sulung Yesügei, ketua suku Kiyad (Kiyan). Sedangkan nama keluarga dari Yesügei adalah Borjigin (Borjigid). Temujin dinamakan seperti nama ketua musuh yang ditewaskan ayahnya.
Temujin lahir di daerah pegunungan Burhan Haldun, dekat dengan sungai Onon dan Herlen. Ibu Temujin, Holun, berasal dari suku Olkhunut. Kehidupan mereka berpindah-pindah layaknya seperti penduduk Turki di Asia Tengah. Saat Berumur 9 tahun, Temujin dikirimkan keluar dari sukunya karena ia akan jodohkan kepada Borte, putri dari suku Onggirat. Ayah Temujin, Yesugei meninggal karena diracuni suku Tartar tepat pada saat ia pulang setelah mengantar Temujin ke suku Onggirat.

Temujin pun dipanggil pulang untuk menemui ayahnya. Yesugei memberi pesan kepada Temujin untuk membalaskan dendamnya dan menghancurkan suku Tartar di masa depan. Kehidupan Temujin bertambah parah setelah hak kekuasaannya sebagai penerus kepala suku direbut oleh orang lain dengan alasan umur Temujin yang masih terlalu muda. Temujin dan keluarganya diusir dari sukunya karena ia ditakuti akan merebut kembali hak kekuasaannya atas suku Borjigin. Hidup Temujin dan keluarganya sangat menderita. Dengan perbekalan makanan yang sangat terbatas, Ia dan adik-adiknya hidup dengan cara berburu. Pada saat ia menginjak remaja, kepala suku Borjigin mengirimkan pasukan untuk membunuh Temujin.
Temujin berhasil tertangkap dan ditawan oleh musuhnya, namun ia berhasil kabur dari tahanan dan dengan pertolongan dari orang-orang yang masih setia kepada Yesugei. Pada saat menginjak dewasa, Temujin berjuang dan mengumpulkan kekuatannya sendiri.

  • Menyatukan Mongolia

Temujin mempunyai teman baik yang juga merupakan saudara angkatnya, yang bernama Jamukha. Ia pernah berkali-kali ditolong oleh Jamukha, yang merupakan keturunan dari suku Jadaran. Bersama-sama dengan saudara angkatnya, Temujin berhasil merebut kembali hak kekuasaannya atas sukunya dan juga perserikatan Mongolia yang didirikan ayahnya dahulu. Waktu demi waktu, wilayah Temujin menjadi semakin besar, yang dilakukan dengan cara menghancurkan musuh-musuhnya dan menggabungkan suku-suku dalam perserikatan Mongolia. Musuh terbesar Temujin dalam sejarah ternyata adalah saudara angkatnya sendiri, Jamukha, yang sering mengadu-domba Temujin dengan suku-suku lainnya, termasuk ayah angkat Temujin sendiri yang bernama Wang Khan. Setelah Temujin berhasil menyisihkan musuh-musuhnya dan melaksanakan perintah almarhum ayahnya, Yesugei, ia kemudian juga berhasil membalaskan kematian nenek-moyangnya, yang dibunuh oleh kerajaan Jin. Temujin kemudian diangkat menjadi Khan dengan gelar Jenghis Khan; yang artinya "Khan dari Segala-galanya".

  • Memerangi kerajaan Jin

Nenek-moyang kerajaan Jin berasal dari suku Jurchen. Suku Jurchen berhasil menguasai wilayah utara Cina selama lebih dari 100 tahun. Hal ini akan menjadi kesulitan besar untuk Jenghis Khan dalam menunaikan tugasnya. Kerajaan Jin memiliki jumlah pasukan yang hampir mendekati jutaan jiwa (lebih dari 10 kali lipat dari pasukan Jenghis Khan pada waktu itu). Mereka hidup aman dibalik tembok kerajaan yang besar dan susah untuk diserang. 

Jenghis Khan berhasil meruntuhkan semangat perang dan kekuataan kerajaan Jin dalam berbagai peperangan. Salah satunya adalah perang di Tebing Serigala Liar, dimana Jenghis Khan yang hanya memiliki pasukan tidak lebih dari 100.000 tentara berhasil membabat pasukan musuh yang besarnya lebih dari setengah juta jiwa. Kejayaan Jenghis Khan terbukti dari keberhasilannya dalam merebut ibukota kerajaan Jin, Dadu, yang sekarang ini menjadi Beijing. Para seniman (artis), ahli senjata (terutama ahli senjata berat/siege weapon), dan barang berharga, semuanya dibawa kembali ke Mongolia sebagai budak dan rampasan perang.

  • Invasi ke Timur Tengah

Sejarah mencatat invasi yang dipimpin oleh Jenghis Khan sendiri dengan ratusan ribu tentara terpilih ke Kerajaan Khawarezmia yang pada waktu itu menguasai seluruh wilayah Timur Tengah diawali dengan pedagang Mongolia yang dibunuh dan harta mereka dirampas oleh panglima Khawarizmi yang serakah. Keserakahan itu membawa bencana bagi bangsanya. Jenghis Khan berhasil menawan dan menghukum mati panglima tersebut dengan cara menuangkan logam panas ke matanya. Kerajaan Khawarizmi menderita kerugian yang tidak terhitung. Amarah Jenghis Khan bertambah setelah cucu kesayangannya terbunuh. Populasi rakyat Timur Tengah berkurang hingga 10%, dan wilayah Mongolia pun bertambah luas sampai kebagian barat benua Asia.


Sejarah pernah mencatat bahwa pada saat Jenghis Khan mundur kembali ke Mongolia, ia sempat memerintahkan dua jendral terbaiknya, Jebe dan Subotai Baatur untuk menyelidiki daerah barat dan membasmi sisa musuh sampai ke wilayah Russia. Jebe dan Subotai pernah menginjak daratan Eropa pada saat itu, dan mengalami konfrontasi dan menghancurkan pasukan Salib yang hendak menyerang wilayah Arab. Sumber konfrontasi itu diperkirakan terjadi karena pasukan Salib dari Eropa mengira pasukan Mongol adalah pasukan Arab.
Wilayah Timur Tengah kemudian dibagi-bagi dan dikuasai oleh putra-putra Jenghis Khan

  • Akhir hidup Jenghis Khan


Jenghis Khan yang sudah berumur tua dipaksa untuk memimpin pasukan untuk menghancurkan kekhalifahan Abbasiyah untuk kesekian kalinya, namun ketidak-cakapan para pasukan dan seringnya melakukan mabuk-mabukan memperlemah pasukan militernya. Ia meninggal dalam perjalanan karena terjatuh dari kuda dan dirahasiakan oleh panglima-panglima setianya sampai musuh berhasil ditaklukan. Kuburan Jenghis Khan dirahasiakan agar tidak dirusak oleh orang lain. Kekuasaan Mongol diwariskan kepada putra ketiganya, Ogadai Khan. Alasan Jenghis Khan menunjuk putra ketiganya untuk meneruskan tahta warisnya, disebabkan oleh keahlian yang dimiliki Ogadai Khan dalam bernegoisasi, memimpin negara dan sifatnya yang tidak sombong (tidak seperti kedua kakaknya yang sering bertempur satu sama lain).

  • Mongolia setelah Jenghis Khan


> Ogodei Khan

Ogodei Khan, anak ketiga yang menjadi Khan Agung, bukan hanya berhasil dalam mempertahankan wilayah Mongolia yang telah dibangun oleh ayahnya, namun ia berhasil memperluas kekuasaannya dengan menghancurkan kerajaan Jin untuk terakhir kalinya, serta memerintahkan panglimanya untuk memperluas kekuasaan di wilayah Eropa. Wilayah Russia, Polandia, serta Hungaria berhasil dikuasai oleh Mongolia. 

Pasukan gabungan yang dipimpin oleh Henry dari Silesia tergabung dari pasukan Hungaria, Polandia, dan Jerman (Kekaisaran Suci Romawi) yang terdiri dari pasukan Teutonik terbantai tak bersisa dalam perang di Leignitz. Sejarah Eropa mencatat kekejaman dan teror besar yang dilakukan oleh kerajaan Mongolia atas rakyat Eropa. Pasukan Mongolia baru menghentikan perluasan wilayah mereka di Eropa setelah mendengar kematian Ogodei Khan. Negara-negara Eropa memilih untuk memberikan upeti kepada kerajaan Mongolia daripada mengambil risiko untuk melawan Mongolia. Eropa bahkan memohon bantuan Mongolia untuk menghancurkan Arab. Sebagian wilayahnya kemudian akan menjadi Dinasti Yuan di bawah Kublai Khan, anak Tolui Khan

> Tolui Khan

Tolui Khan, anak termuda, mewarisi tanah Mongolia yang relatif kecil. Anaknya, Kublai Khan, akan mendirikan Dinasti Yuan.

> Chagatai Khan
Chagatai Khan, anak kedua, diberi Asia Tengah dan Iran utara, mendirikan Kekhanan Chagatai.

> Batu Khan

Batu Khan adalah anak Jochi Khan, anak tertua Jenghis Khan yang telah mati sebelum kematian Jenghis Khan. Warisan tanah yang sekiranya diwarisi oleh Jochi, yakni Rusia, diberikan oleh kedua anaknya, Batu Khan dan Orda Khan, yang keduanya, beserta 12 saudara mereka lainnya, mendirikan Ulus Jochi (Golden Horde)
Setelah kematian Ogodei Khan, Mongolia dikuasai oleh Batu Khan yang memiliki visi lain dalam memperluas kerajaan Mongolia. Ia mengirimkan pasukan untuk menguasai tanah Arab yang sebelumnya dikuasai oleh Eropa, seperti Damaskus dan kota-kota lainnya. Pasukan Eropa mengirimkan bantuan pada saat mereka merebut kota Yerusalem. Pasukan Mongolia tercatat dalam sejarah memperluas kekuasaannya sampai ke wilayah Mesir. Setelah kematian Batu Khan, pasukan Mongolia menghentikan agresi militernya ke arah barat.

> Kubilai Khan

Mongolia pada saat kekuasaan Kubilai Khan berhasil memperluas wilayah sampai seluruh Cina, Korea, Burma, Vietnam, dan Kamboja. Pasukan Mongolia pernah melakukan agresi militer ke Jepang dan Jawa (Kerajaan Singasari), namun tidak berhasil.

Dominasi global

Mongolia berjuang untuk membawa nama baik bangsanya dengan prinsip yang telah diajarkan oleh pahlawan mereka, yaitu Jenghis Khan. Sejarah dunia mencatat bahwa Mongolia adalah satu-satunya negara yang kekuasaannya mendekati dominasi atas seluruh dunia (global domination). Kekuasaannya waktu itu adalah: China, Mongolia, Russia, Korea, Vietnam, Burma, Kamboja, Timur Tengah, Polandia, Hungaria, Arab Utara, dan India Utara.


http://id.wikipedia.org/wiki/Jenghis_Khan




Jumat, 16 Maret 2012

ADOLF HITLER : Founder and leader of the Nazi

 "I could kill all the Jews in the world , but I kept some alive , so you can see why I was killing them." Adolf Hitler
 
Founder and leader of the Nazi Party, Reich Chancellor and guiding spirit of the Third Reich from 1933 to 1945, Head of State and Supreme Commander of the Armed Forces, Adolf Hitler was born in Braunau am Inn, Austria, on 20 April 1889. The son of a fifty-two-year-old Austrian customs official, Alois Schickelgruber Hitler, and his third wife, a young peasant girl, Klara Poelzl, both from the backwoods of lower Austria, the young Hitler was a resentful, discontented child. Moody, lazy, of unstable temperament, he was deeply hostile towards his strict, authoritarian father and strongly attached to his indulgent, hard-working mother, whose death from cancer in December 1908 was a shattering blow to the adolescent Hitler.
After spending four years in the Realschule in Linz, he left school at the age of sixteen with dreams of becoming a painter. In October 1907, the provincial, middle-class boy left home for Vienna, where he was to remain until 1913 leading a bohemian, vagabond existence. Embittered at his rejection by the Viennese Academy of Fine Arts, he was to spend "five years of misery and woe" in Vienna as he later recalled, adopting a view of life which changed very little in the ensuing years, shaped as it was by a pathological hatred of Jews and Marxists, liberalism and the cosmopolitan Habsburg monarchy.
Existing from hand to mouth on occasional odd jobs and the hawking of sketches in low taverns, the young Hitler compensated for the frustrations of a lonely bachelor's life in miserable male hostels by political harangues in cheap cafes to anyone who would listen and indulging in grandiose dreams of a Greater Germany.
In Vienna he acquired his first education in politics by studying the demagogic techniques of the popular Christian-social Mayor, Karl Lueger, and picked up the stereotyped, obsessive anti-Semitism with its brutal, violent sexual connotations and concern with the "purity of blood" that remained with him to the end of his career. From crackpot racial theorists like the defrocked monk, Lanz von Liebenfels, and the Austrian Pan-German leader, Georg von Schoenerer, the young Hitler learned to discern in the "Eternal Jew" the symbol and cause of all chaos, corruption and destruction in culture, politics and the economy. The press, prostitution, syphilis, capitalism, Marxism, democracy and pacifism--all were so many means which "the Jew" exploited in his conspiracy to undermine the German nation and the purity of the creative Aryan race.
In May 1913 Hitler left Vienna for Munich and, when war broke out in August 1914, he joined the Sixteenth Bavarian Infantry Regiment, serving as a despatch runner. Hitler proved an able, courageous soldier, receiving the Iron Cross (First Class) for bravery, but did not rise above the rank of Lance Corporal. Twice wounded, he was badly gassed four weeks before the end of the war and spent three months recuperating in a hospital in Pomerania. Temporarily blinded and driven to impotent rage by the abortive November 1918 revolution in Germany as well as the military defeat, Hitler, once restored, was convinced that fate had chosen him to rescue a humiliated nation from the shackles of the Versailles Treaty, from Bolsheviks and Jews.
Assigned by the Reichswehr in the summer of 1919 to "educational" duties which consisted largely of spying on political parties in the overheated atmosphere of post-revolutionary Munich, Hitler was sent to investigate a small nationalistic group of idealists, the German Workers' Party. On 16 September 1919 he entered the Party (which had approximately forty members), soon changed its name to the National Socialist German Workers' Party (NSDAP) and had imposed himself as its Chairman by July 1921.
Hitler discovered a powerful talent for oratory as well as giving the new Party its symbol — the swastika — and its greeting "Heil!." His hoarse, grating voice, for all the bombastic, humourless, histrionic content of his speeches, dominated audiences by dint of his tone of impassioned conviction and gift for self-dramatization. By November 1921 Hitler was recognized as Fuhrer of a movement which had 3,000 members, and boosted his personal power by organizing strong- arm squads to keep order at his meetings and break up those of his opponents. Out of these squads grew the storm troopers (SA) organized by Captain Ernst Röhm and Hitler's black-shirted personal bodyguard, the Schutzstaffel (SS).
Hitler focused his propaganda against the Versailles Treaty, the "November criminals," the Marxists and the visible, internal enemy No. 1, the "Jew," who was responsible for all Germany's domestic problems. In the twenty-five-point programme of the NSDAP announced on 24 February 1920, the exclusion of the Jews from the Volk community, the myth of Aryan race supremacy and extreme nationalism were combined with "socialistic" ideas of profit-sharing and nationalization inspired by ideologues like Gottfried Feder. Hitler's first written utterance on political questions dating from this period emphasized that what he called "the anti-Semitism of reason" must lead "to the systematic combating and elimination of Jewish privileges. Its ultimate goal must implacably be the total removal of the Jews."
By November 1923 Hitler was convinced that the Weimar Republic was on the verge of collapse and, together with General Ludendorff and local nationalist groups, sought to overthrow the Bavarian government in Munich. Bursting into a beer-hall in Munich and firing his pistol into the ceiling, he shouted out that he was heading a new provisional government which would carry through a revolution against "Red Berlin." Hitler and Ludendorff then marched through Munich at the head of 3,000 men, only to be met by police fire which left sixteen dead and brought the attempted putsch to an ignominious end. Hitler was arrested and tried on 26 February 1924, succeeding in turning the tables on his accusers with a confident, propagandist speech which ended with the prophecy: "Pronounce us guilty a thousand times over: the goddess of the eternal court of history will smile and tear to pieces the State Prosecutor's submission and the court's verdict for she acquits us." Sentenced to five years' imprisonment in Landsberg fortress, Hitler was released after only nine months during which he dictated Mein Kampf (My Struggle) to his loyal follower, Rudolf Hess. Subsequently the "bible" of the Nazi Party, this crude, half-baked hotchpotch of primitive Social Darwinism, racial myth, anti-Semitism and lebensraum fantasy had sold over five million copies by 1939 and been translated into eleven languages.
The failure of the Beer-Hall putsch and his period of imprisonment transformed Hitler from an incompetent adventurer into a shrewd political tactician, who henceforth decided that he would never again confront the gun barrels of army and police until they were under his command. He concluded that the road to power lay not through force alone but through legal subversion of the Weimar Constitution, the building of a mass movement and the combination of parliamentary strength with extra-parliamentary street terror and intimidation. Helped by Goering and Goebbels he began to reassemble his followers and rebuild the movement which had disintegrated in his absence.
In January 1925 the ban on the Nazi Party was removed and Hitler regained permission to speak in public. Outmaneuvering the "socialist" North German wing of the Party under Gregor Strasser, Hitler re-established himself in 1926 as the ultimate arbiter to whom all factions appealed in an ideologically and socially heterogeneous movement. Avoiding rigid, programmatic definitions of National Socialism which would have undermined the charismatic nature of his legitimacy and his claim to absolute leadership, Hitler succeeded in extending his appeal beyond Bavaria and attracting both Right and Left to his movement.
Though the Nazi Party won only twelve seats in the 1928 elections, the onset of the Great Depression with its devastating effects on the middle classes helped Hitler to win over all those strata in German society who felt their economic existence was threatened. In addition to peasants, artisans, craftsmen, traders, small businessmen, ex-officers, students and declasse intellectuals, the Nazis in 1929 began to win over the big industrialists, nationalist conservatives and army circles. With the backing of the press tycoon, Alfred Hugenberg, Hitler received a tremendous nationwide exposure just as the effects of the world economic crisis hit Germany, producing mass unemployment, social dissolution, fear and indignation. With demagogic virtuosity, Hitler played on national resentments, feelings of revolt and the desire for strong leadership using all the most modern techniques of mass persuasion to present himself as Germany's redeemer and messianic saviour.
In the 1930 elections the Nazi vote jumped dramatically from 810,000 to 6,409,000 (18.3 percent of the total vote) and they received 107 seats in the Reichstag. Prompted by Hjalmar Schacht and Fritz Thyssen, the great industrial magnates began to contribute liberally to the coffers of the NSDAP, reassured by Hitler's performance before the Industrial Club in Dusseldorf on 27 January 1932 that they had nothing to fear from the radicals in the Party. The following month Hitler officially acquired German citizenship and decided to run for the Presidency, receiving 13,418,011 votes in the run-off elections of 10 April 1931 as against 19,359,650 votes for the victorious von Hindenburg , but four times the vote for the communist candidate, Ernst Thaelmann. In the Reichstag elections of July 1932 the Nazis emerged as the largest political party in Germany, obtaining nearly fourteen million votes (37.3 per cent) and 230 seats. Although the NSDAP fell back in November 1932 to eleven million votes (196 seats), Hitler was helped to power by a camarilla of conservative politicians led by Franz von Papen, who persuaded the reluctant von Hindenburg to nominate "the Bohemian corporal" as Reich Chancellor on 30 January 1933.
Once in the saddle, Hitler moved with great speed to outmanoeuvre his rivals, virtually ousting the conservatives from any real participation in government by July 1933, abolishing the free trade unions, eliminating the communists, Social Democrats and Jews from any role in political life and sweeping opponents into concentration camps. The Reichstag fire of 27 February 1933 had provided him with the perfect pretext to begin consolidating the foundations of a totalitarian one-party State, and special "enabling laws" were ramrodded through the Reichstag to legalize the regime's intimidatory tactics.
With support from the nationalists, Hitler gained a majority at the last "democratic" elections held in Germany on 5 March 1933 and with cynical skill he used the whole gamut of persuasion, propaganda, terror and intimidation to secure his hold on power. The seductive notions of "National Awakening" and a "Legal Revolution" helped paralyse potential opposition and disguise the reality of autocratic power behind a facade of traditional institutions.
The destruction of the radical SA leadership under Ernst Rohm in the Blood Purge of June 1934 confirmed Hitler as undisputed dictator of the Third Reich and by the beginning of August, when he united the positions of Fuhrer and Chancellor on the death of von Hindenburg, he had all the powers of State in his hands. Avoiding any institutionalization of authority and status which could challenge his own undisputed position as supreme arbiter, Hitler allowed subordinates like Himmler, Goering and Goebbels to mark out their own domains of arbitrary power while multiplying and duplicating offices to a bewildering degree.
During the next four years Hitler enjoyed a dazzling string of domestic and international successes, outwitting rival political leaders abroad just as he had defeated his opposition at home. In 1935 he abandoned the Versailles Treaty and began to build up the army by conscripting five times its permitted number. He persuaded Great Britain to allow an increase in the naval building programme and in March 1936 he occupied the demilitarized Rhineland without meeting opposition. He began building up the Luftwaffe and supplied military aid to Francoist forces in Spain, which brought about the Spanish fascist victory in 1939.
The German rearmament programme led to full employment and an unrestrained expansion of production, which reinforced by his foreign policy successes--the Rome-Berlin pact of 1936, the Anschluss with Austria and the "liberation" of the Sudeten Germans in 1938 — brought Hitler to the zenith of his popularity. In February 1938 he dismissed sixteen senior generals and took personal command of the armed forces, thus ensuring that he would be able to implement his aggressive designs.
Hitler's saber-rattling tactics bludgeoned the British and French into the humiliating Munich agreement of 1938 and the eventual dismantlement of the Czechoslovakian State in March 1939. The concentration camps, the Nuremberg racial laws against the Jews, the persecution of the churches and political dissidents were forgotten by many Germans in the euphoria of Hitler's territorial expansion and bloodless victories. The next designated target for Hitler's ambitions was Poland (her independence guaranteed by Britain and France) and, to avoid a two-front war, the Nazi dictator signed a pact of friendship and non-aggression with Soviet Russia. On 1 September 1939 German armies invaded Poland and henceforth his main energies were devoted to the conduct of a war he had unleashed to dominate Europe and secure Germany's "living space."
The first phase of World War II was dominated by German Blitzkrieg tactics: sudden shock attacks against airfields, communications, military installations, using fast mobile armor and infantry to follow up on the first wave of bomber and fighter aircraft. Poland was overrun in less than one month, Denmark and Norway in two months, Holland, Belgium, Luxemburg and France in six weeks. After the fall of France in June 1940 only Great Britain stood firm.
The Battle of Britain, in which the Royal Air Force prevented the Luftwaffe from securing aerial control over the English Channel, was Hitler's first setback, causing the planned invasion of the British Isles to be postponed. Hitler turned to the Balkans and North Africa where his Italian allies had suffered defeats, his armies rapidly overrunning Greece, Yugoslavia, the island of Crete and driving the British from Cyrenaica.
The crucial decision of his career, the invasion of Soviet Russia on June 22, 1941, was rationalized by the idea that its destruction would prevent Great Britain from continuing the war with any prospect of success. He was convinced that once he kicked the door in, as he told Jodl (q.v.), "the whole rotten edifice [of communist rule] will come tumbling down" and the campaign would be over in six weeks. The war against Russia was to be an anti-Bolshivek crusade, a war of annihilation in which the fate of European Jewry would finally be sealed. At the end of January 1939 Hitler had prophesied that "if the international financial Jewry within and outside Europe should succeed once more in dragging the nations into a war, the result will be, not the Bolshevization of the world and thereby the victory of Jewry, but the annihilation of the Jewish race in Europe."
As the war widened — the United States by the end of 1941 had entered the struggle against the Axis powers — Hitler identified the totality of Germany's enemies with "international Jewry," who supposedly stood behind the British-American-Soviet alliance. The policy of forced emigration had manifestly failed to remove the Jews from Germany's expanded lebensraum, increasing their numbers under German rule as the Wehrmacht moved East.
The widening of the conflict into a world war by the end of 1941, the refusal of the British to accept Germany's right to continental European hegemony (which Hitler attributed to "Jewish" influence) and to agree to his "peace" terms, the racial-ideological nature of the assault on Soviet Russia, finally drove Hitler to implement the "Final Solution of the Jewish Question" which had been under consideration since 1939. The measures already taken in those regions of Poland annexed to the Reich against Jews (and Poles) indicated the genocidal implications of Nazi-style "Germanization" policies. The invasion of Soviet Russia was to set the seal on Hitler's notion of territorial conquest in the East, which was inextricably linked with annihilating the 'biological roots of Bolshevism' and hence with the liquidation of all Jews under German rule.

At first the German armies carried all before them, overrunning vast territories, overwhelming the Red Army, encircling Leningrad and reaching within striking distance of Moscow. Within a few months of the invasion Hitler's armies had extended the Third Reich from the Atlantic to the Caucasus, from the Baltic to the Black Sea. But the Soviet Union did not collapse as expected and Hitler, instead of concentrating his attack on Moscow, ordered a pincer movement around Kiev to seize the Ukraine, increasingly procrastinating and changing his mind about objectives. Underestimating the depth of military reserves on which the Russians could call, the caliber of their generals and the resilient, fighting spirit of the Russian people (whom he dismissed as inferior peasants), Hitler prematurely proclaimed in October 1941 that the Soviet Union had been "struck down and would never rise again." In reality he had overlooked the pitiless Russian winter to which his own troops were now condemned and which forced the Wehrmacht to abandon the highly mobile warfare which had previously brought such spectacular successes.
The disaster before Moscow in December 1941 led him to dismiss his Commander-in-Chief von Brauchitsch, and many other key commanders who sought permission for tactical withdrawals, including Guderian, Bock, Hoepner, von Rundstedt and Leeb, found themselves cashiered. Hitler now assumed personal control of all military operations, refusing to listen to advice, disregarding unpalatable facts and rejecting everything that did not fit into his preconceived picture of reality. His neglect of the Mediterranean theatre and the Middle East, the failure of the Italians, the entry of the United States into the war, and above all the stubborn determination of the Russians, pushed Hitler on to the defensive. From the winter of 1941 the writing was on the wall but Hitler refused to countenance military defeat, believing that implacable will and the rigid refusal to abandon positions could make up for inferior resources and the lack of a sound overall strategy.
Convinced that his own General Staff was weak and indecisive, if not openly treacherous, Hitler became more prone to outbursts of blind, hysterical fury towards his generals, when he did not retreat into bouts of misanthropic brooding. His health, too, deteriorated under the impact of the drugs prescribed by his quack physician, Dr. Theodor Morell. Hitler's personal decline, symbolized by his increasingly rare public appearances and his self-enforced isolation in the "Wolf's Lair," his headquarters buried deep in the East Prussian forests, coincided with the visible signs of the coming German defeat which became apparent in mid-1942.
Rommel's defeat at El Alamein and the subsequent loss of North Africa to the Anglo-American forces were overshadowed by the disaster at Stalingrad where General von Paulus's Sixth Army was cut off and surrendered to the Russians in January 1943. In July 1943 the Allies captured Sicily and Mussolini's regime collapsed in Italy. In September the Italians signed an armistice and the Allies landed at Salerno, reaching Naples on 1 October and taking Rome on June 4, 1944. The Allied invasion of Normandy followed on June 6, 1944 and soon a million Allied troops were driving the German armies eastwards, while from the opposite direction the Soviet forces advanced relentlessly on the Reich. The total mobilization of the German war economy under Albert Speer and the energetic propaganda efforts of Joseph Goebbels to rouse the fighting spirit of the German people were impotent to change the fact that the Third Reich lacked the resources equal to a struggle against the world alliance which Hitler himself had provoked.
Allied bombing began to have a telling effect on German industrial production and to undermine the morale of the population. The generals, frustrated by Hitler's total refusal to trust them in the field and recognizing the inevitability of defeat, planned, together with the small anti-Nazi Resistance inside the Reich, to assassinate the Fuhrer on 20 July 1944, hoping to pave the way for a negotiated peace with the Allies that would save Germany from destruction. The plot failed and Hitler took implacable vengeance on the conspirators, watching with satisfaction a film of the grisly executions carried out on his orders.
As disaster came closer, Hitler buried himself in the unreal world of the Fuhrerbunker in Berlin, clutching at fantastic hopes that his "secret weapons," the V-1 and V-2 rockets, would yet turn the tide of war. He gestured wildly over maps, planned and directed attacks with non-existent armies and indulged in endless, night-long monologues which reflected his growing senility, misanthropy and contempt for the "cowardly failure" of the German people.

On April 29, 1945, he married his mistress Eva Braun and dictated his final political testament, concluding with the same monotonous, obsessive fixation that had guided his career from the beginning:
The following day Hitler committed suicide, shooting himself through the mouth with a pistol. His body was carried into the garden of the Reich Chancellery by aides, covered with petrol and burned along with that of Eva Braun. This final, macabre act of self-destruction appropriately symbolized the career of a political leader whose main legacy to Europe was the ruin of its civilization and the senseless sacrifice of human life for the sake of power and his own commitment to the bestial nonsense of National Socialist race mythology. With his death nothing was left of the "Greater Germanic Reich," of the tyrannical power structure and ideological system which had devastated Europe during the twelve years of his totalitarian rule.

source:http://www.jewishvirtuallibrary.org 



 ARTIKEL LAINYA :

Kamis, 15 Maret 2012

SUMPAH PALAPA MAHA PATIH GAJAH MADA

“  Sira Gajah mada pepatih amangkubumi tan ayun mukti palapa, sira Gajah mada lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring Seram,Tanjung pura, ring Haru, ring Pahang , Dompo , ring Bali, Sunda , Palembang , Tumasik , samana ingsun amukti palapa ”.

Gajah mada Adalah sosok Patih dan mahapatih yang sangat melegenda. Dia hidup di jaman Kerajaan majapahit, pada masa pemerintahan Ratu Tribuana tungga dewi  hingga pemerintahan raja Hayam wurk . Belum ada data atau  keterangan  tentang kapan dan di mana gajah mada di lahirkan.

Sebelum menjadi seorang mahapatih, gajah mada adalah seorang bekel  Kariernya mulai cemerlang saat menyelamatkan Prabu Jayanegara Raja Kahuripan ( 1309 – 1328 ) pada saat pemberontakan Ra Kuti. Sehingga dianggkat menjadi Patih Kahuripan pada tahun 1319. Dua tahun kemudian di adi angkat menjadi patih kediri . pada tahun 1329 Aryo Tadah ( patih majapahit ) mengundurkan diri dari jabatanya . dia menunjuk patih gajah mada  sebagai penggantinya. Patih gajah mada tidak langsung menyetujui . ia ingin  menaklukkan Sadeng dak Keta yang saat itu sedang memberontak terhadap pemerintahan majapahit. Setelah berhasil menaklukkan Sadeng dan Keta Patih gajah mada di angkat secara resmi oleh ratu Tribuana Tungga dewi pada tahun 1334.

Pada waktu pengankatanya ia mengucapkan sumpah PALAPA, yaitu : Dia tidak  akan menikmati palapa atau rempah - rempah ( kenikmatan duniawi )  sebelum dapat menaklukkan nusantara. Sebagaimana tercatat dalam kitab Pararaton “  Sira Gajah mada pepatih amangkubumi tan ayun mukti palapa, sira Gajah mada lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring Seram,Tanjung pura, ring Haru, ring Pahang , Dompo , ring Bali, Sunda , Palembang , Tumasik , samana ingsun amukti palapa ”.


Pada saat Gajah Mada mengikrarkan Sumpah Palapa pun banyak pihak yang menyangsikan kemampuannya mewujudkan hal tersebut. Bahkan sebagian elit Majapahit menganggapnya sebagai upaya penjilatan kepada Ratu Majapahit saat itu. Hal tersebut dapat dipahami karena sebagai pemimpin dan kepala negara Ratu Tribhuwanatunggadewi pada saat itu sedang mengalami krisis kepemimpinan yang sangat parah sepanjang sejarah para Raja Majapahit. Pada saat itu banyak wilayah di Majapahit yang melakukan pemberontakan separatis terutama gerakan Keta dan Sadeng. Patih Gajah Mada pun berhasil menumpas pemberontakan tersebut sehingga diangkat menjadi Mahapatih oleh Ratu Majapahit.

Ternyata Gajah Mada berhasil mewujudkan sumpahnya dengan menguasai Bedahulu (Bali), Lombok (1343), Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang, Samudra Pasai, negeri-negeri lain di Swarnadwipa (Sumatra), Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

Di jaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang menggantikan Tribhuwanatunggadewi, Patih Gajah Mada terus mengembangkan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo. Sehingga di jaman Gajah mada inilah Majapahit meraih puncak kejayaanya.

Dalam kitab Negarakertagama di sebutkan bahwa Raja Hayam Wuruk sangat menghargai Gajah Mada sebagai Mahamantri  Agung yang  Wira, bijaksana serta berbakti kepada Negara. Sang raja menganugrahkan sebuah dukuh “ Madakaripura “ di Tongas Probolinggo kepada Gajah Mada.

Gajah mada Wafat pada tahun 1286 saka atau 1364 Masehi.

sumber
 ARTIKEL LAINYA :


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost